{"id":484,"date":"2024-11-12T07:21:40","date_gmt":"2024-11-12T07:21:40","guid":{"rendered":"https:\/\/www.kalananti.id\/blog\/?p=484"},"modified":"2024-11-13T10:10:25","modified_gmt":"2024-11-13T10:10:25","slug":"kenali-5-bahasa-cinta-anak-lewat-cara-dia-tantrum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.kalananti.id\/blog\/kenali-5-bahasa-cinta-anak-lewat-cara-dia-tantrum","title":{"rendered":"Kenali 5 Bahasa Cinta Anak Lewat Cara Dia Tantrum"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" style=\"margin-bottom: 1rem\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/8889d979-30b0-4561-881b-4d0100612764.jpg\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Menangis adalah hal yang wajar dan seringkali dilakukan oleh anak-anak. Biasanya anak menangis karena ingin menunjukkan emosinya atau hal tertentu. Namun, orang tua sering dibuat bingung karena tidak bisa memahami maksud dari tangisan anak. Akhirnya Si Kecil malah menjadi lebih rewel dan terus menangis karena keinginannya tidak terpenuhi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jika anak tiba-tiba rewel tanpa sebab yang jelas, hal tersebut bisa terjadi karena tangki cintanya sedang kosong dan butuh diisi kembali. Tangki cinta dianalogikan sebagai gambaran pemenuhan kebutuhan emosi dasar anak, seperti kasih sayang dan perhatian. Pemenuhan tangki cinta anak dapat memberikan dampak positif dan berpengaruh besar terhadap sikap serta pemikiran anak di masa depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Bagi anak, ada dua sumber utama yang penting untuk memenuhi tangki cintanya, yaitu dari ayah dan Ibu. Maka dari itu, orang tua harus mempunyai cara untuk lebih berperan mengusahakan kebutuhan anak. Salah satu caranya adalah dengan memahami bahasa cinta setiap anak.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt\"><b>Macam-Macam Bahasa Cinta Anak<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Memahami bahasa cinta atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">love language<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sangat membantu orang tua mendalami karakter anak dengan baik. Setiap anak memiliki bahasa cintanya masing-masing. Ada beberapa jenis bahasa cinta yang harus dikenali orang tua. Bahasa cinta ini bisa tercermin ketika anak sedang rewel dan tantrum. Berikut adalah bahasa cinta berdasarkan cara anak tantrum:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt\"><b>Mencubit atau Membenturkan Kepala<\/b><\/span><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jika anak mencubit atau membenturkan kepalanya, itu bisa menjadi tanda bahwa tangki cinta mereka yang kosong adalah \u201csentuhan fisik\u201d atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">\u201cphysical touch\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Anak dengan bahasa cinta <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">physical touch<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> akan merasa dicintai jika mendapat sentuhan yang lembut dari orang tuanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sentuhan orang tua dapat meningkatkan hormon oksitosin alias hormon kebahagiaan sehingga anak lebih tenteram karena disayangi. Orang tua bisa sering memeluknya dalam setiap kesempatan. Misalnya ketika berangkat sekolah atau saat anak bersedih. Seringlah juga menggandeng tangan, merangkul bahunya, atau mencium pipi anak sewaktu-waktu.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt\"><b>Berkata Keras atau Sering Berteriak<\/b><\/span><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Anak yang sering berteriak atau berbicara dengan nada tinggi biasanya mengindikasikan mengindikasikan kekosongan di bahasa cinta <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">\u201cword of affirmation\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Mereka membutuhkan kata-kata pengakuan dan dorongan positif dari orang tuanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ungkapan bahasa cinta ini dapat dilakukan dengan memberikan pujian sekecil apapun. Kalau dalam keseharian, sesederhana pujian terkait gaya pakaian, prestasi belajar, atau sikap baik yang dilakukannya hari itu. Jika anak sudah bisa membaca, Ayah atau Bunda bisa juga menuliskan kalimat semangat yang diletakkan di meja belajarnya maupun ditempelkan di kulkas.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt\"><b>Egois dan Tidak Mau Berbagi<\/b><\/span><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jika anak terlihat pelit dan tidak suka berbagi, bisa jadi bahasa cinta mereka adalah \u201cpemberian hadiah\u201d atau \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">receiving gift\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang tidak terpenuhi. Hadiah dianggap anak sebagai simbol kasih dan sayang. Meraka tidak hanya menghargai hadiah tersebut, tapi juga waktu dan usaha yang dilakukan untuk memberikannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Hadiah disini juga bukan selalu barang yang mahal, tapi bisa berupa kejutan kecil sesederhana stiker, makanan favorit, atau alat-alat yang menunjang sekolahnya. Momen dan cara orang tua dalam memberikan hadiah inilah yang sangat berarti bagi anak.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt\"><b>Bersikap Kasar dan Agresif<\/b><\/span><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Anak yang bahasa cintanya dalam bentuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">\u201cact of service\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> akan berperilaku kasar dan agresif ketika tangki cintanya kosong. Mereka mungkin membutuhkan bantuan atau dukungan dalam melakukan sesuatu. Sehingga ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, mereka bisa merasa frustasi dan akhirnya berperilaku kasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Menerapkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">love language<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> ini tidak begitu sulit. Orang tua cukup memberikan perhatian dalam bentuk tindakan, seperti membantu mereka memakai baju, membuatkan sarapan, dan mengajak bermain. Anak yang menjunjung <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">act of service<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> akan sangat menikmati ketika orang tuanya melakukan hal kecil untuk mereka.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt\"><b>Sering Merengek Ingin Dekat Orang Tuanya<\/b><\/span><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jika anak terus menerus merengek minta ditemani atau selalu ingin dekat dengan orang tuanya, maka kemungkinan tangki cinta yang kosong adalah \u201cwaktu berkualitas\u201d atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">\u201cquality time\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Anak yang menghargai waktu akan sangat merasa dicintai ketika orang tua meluangkan waktu khusus bagi mereka tanpa distraksi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tidak perlu menghabiskan uang, orang tua bisa menggelar sesi bermain, nonton bersama, membaca buku, atau belajar bersama dirumah. Kesempatan ini bisa digunakan orang tua untuk membangun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">bonding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dengan anak. Saat anak bercerita, lakukan kontak mata dan dengarkanlah secara aktif. Hal ini otomatis akan mengisi tangki cintanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Anak kecil tentu masih belajar untuk mengelola emosinya. Tantrum adalah hal yang wajar saat anak tidak mendapatkan apa yang diinginkan, sehingga mereka berusaha menyalurkan emosi untuk mengatasi kemarahan dan kekecewaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Anak yang tantrum juga sebenarnyan karena merasa aman membagikan apa yang dirasakannya kepada orang tua. Oleh karenanya, ketika anak tantrum, orang tua sebaiknya tidak memaksa anak untuk berhenti menangis ataupun menghukum mereka. Memahami bahasa cinta mereka akan sangat efektif untuk menenangkan anak ketika tantrum. Tetap semangat ya Ayah dan Bunda!<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Penulis : Rizka Devi Amalia<\/p>\n<p>Instagaram : <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/rizkadevam\/\" target=\"_blank\" rel=\"nofollow noopener\">https:\/\/www.instagram.com\/rizkadevam\/<\/a><\/p>\n<p>LinkedIn : <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/rizkadevam\/\" target=\"_blank\" rel=\"nofollow noopener\">https:\/\/www.linkedin.com\/in\/rizkadevam\/<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Referensi:<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">www.suratdokter.com\/psikologi\/1485125228\/ciri-khas-tantrum-berdasarkan-tangki-cinta-kosongnya-berikut-juga-cara-mengisinya?page=2<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">www.rri.co.id\/lain-lain\/850505\/memahami-bahasa-cinta-untuk-anak<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">www.klikdokter.com\/ibu-anak\/tips-parenting\/bahasa-cinta-anak-yang-perlu-dipahami-orangtua<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menangis adalah hal yang wajar dan seringkali dilakukan oleh anak-anak. Biasanya anak menangis karena ingin menunjukkan emosinya atau hal tertentu. Namun, orang tua sering dibuat bingung karena tidak bisa memahami maksud dari tangisan anak. Akhirnya Si Kecil malah menjadi lebih rewel dan terus menangis karena keinginannya tidak terpenuhi. Jika anak tiba-tiba rewel tanpa sebab yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":484,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_edit_lock":["1741314324:17"],"_edit_last":["4"],"_aioseo_title":["#post_title"],"_aioseo_description":["Tangki cinta dianalogikan sebagai gambaran pemenuhan kebutuhan emosi dasar anak, seperti kasih sayang dan perhatian. Yuk kenali love language anak dari aksinya!"],"_aioseo_keywords":[""],"_aioseo_og_title":[null],"_aioseo_og_description":[null],"_aioseo_og_article_section":[""],"_aioseo_og_article_tags":[""],"_aioseo_twitter_title":[null],"_aioseo_twitter_description":[null],"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/8889d979-30b0-4561-881b-4d0100612764.jpg"],"_knawatfibu_alt":["kenali love language anak dari cara ngambek"]},"categories":[1],"tags":[7],"class_list":["post-484","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-parenting"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.kalananti.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/484","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.kalananti.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.kalananti.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kalananti.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kalananti.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=484"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.kalananti.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/484\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":496,"href":"https:\/\/www.kalananti.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/484\/revisions\/496"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kalananti.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/484"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.kalananti.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=484"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kalananti.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=484"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kalananti.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=484"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}