"Strict parents dikenal sebagai orang tua yang kaku dan serba penuntut, padahal mereka memiliki maksud baik dibalik teknik parenting yang mereka lakukan. Kira-kira boleh gak sih jadi strict parents?"

Kenali Apa Itu Strict Parents dan Dampaknya Bagi Anak

“Kakak harus bisa matematika dong! Teman-teman kakak aja bisa kok, masa kakak ga bisa?”

Sebagai orang tua mungkin kita seringkali mengeluarkan kalimat serupa di atas tanpa disadari. Alasan menjadi orang tua yang penuntut tentu bermaksud baik, agar si Kecil menjadi anak yang dapat diandalkan. Nah sebenarnya apa sih yang dimaksud orang tua kaku atau strict parents ini?

Apa itu Strict Parents ?

Sumber : freepik.com/photos/angry-parents'>Angry parents photo created by master1305

Orang tua yang kaku atau strict parents adalah orang tua yang menempatkan standar tinggi dan tuntutan pada anak-anak mereka. Si Kecil seringkali dibandingkan dengan teman atau sanak saudara tanpa melihat bakat dan keterampilan miliknya. 

Semua orang tua ingin anak-anaknya berperilaku baik dan tumbuh menjadi orang yang kuat dan sukses, tetapi beberapa orang tua menetapkan standar mereka terlalu tinggi untuk dipenuhi oleh si anak. Yuk kita kenali apa sih ciri-ciri orang tua penuntut.

Ciri-ciri Strict Parents :

Sumber : freepik.com/photos/angry-parents created by master1305

  • Punya banyak aturan

Menjadi orang tua perlu menetapkan beberapa aturan pada anak. Tujuannya agar si Kecil menjadi anak yang disiplin dan bertanggungjawab. Tapi, kalau sampai mengontrol hal-hal kecil dalam anak, berarti tandanya Ayah dan Bunda sudah terlalu banyak mengatur hidup si Kecil. Misalnya, selalu menetapkan permainan apa yang boleh dan tak boleh dimainkan setiap harinya. 

  • Mengancam si Kecil

Ciri ini terlihat dari orang tua yang sering memperingatkan si Kecil namun lewat cara yang salah. Misalnya ketika si Kecil merengek ingin dibelikan mainan, Ayah dan Bunda mungkin masih menolak dengan halus permintaan mereka. Tapi karena semakin menjadi-jadi, akhirnya Ayah dan Bunda memutuskan untuk mengancam si Kecil. Misalnya dengan bilang “Diam atau Mama pukul ya!” dan sejenisnya. Ucapan ini memang efektif, namun bisa mendorong anak menjadi benci pada kedua orang tuanya.

  • Enggan memuji si Kecil

Memberikan pujian pada anak sangat diperlukan demi perkembangan mereka. Dirinya merasa diapresiasi terutama oleh orang tuanya dan menimbulkan perasaan bahagia. Terkadang Ayah dan Bunda tidak memuji si Kecil bukan karena tidak mau, tapi karena gengsi. Cobalah lebih terbuka lagi kepada anak agar mereka dapat mengerti kalau kedua orangtuanya sangat menyayangi mereka.

  • Peduli pada hasil bukan proses

Ketika belajar ataupun mengikuti perlombaan, tentu orang tua pasti ingin agar anaknya juara dan memperoleh peringkat tinggi. Tapi sadar gak sih, kalau kita mungkin terlalu menuntut mereka untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Memang ada beberapa orang yang perlu diberikan target agar bersemangat, namun target yang dimiliki haruslah realistis untuk dicapai.

Alasan Menjadi Strict Parents

Banyak Strict Parents membenarkan gaya pengasuhannya dengan alasan membesarkan anak menjadi sopan, patuh dan tahan banting. Tapi dibaliknya ternyata ada banyak alasan lain orang tua menjadi strict parents :

  • Pernah dididik oleh ayah dan ibu yang strict parents

Orang tua yang pernah menerima didikan strict parents akan cenderung meneruskannya pada si anak. Karena para orang tua ini mengikuti pendapat orangtuanya terdahulu yang sangat keras dalam melatih anak.

  • Menaruh ekspektasi terlalu tinggi

Ayah dan Bunda pasti memiliki harapan pada si Kecil, kan? Nah sering kali si Kecil tidak dapat memenuhi ekspektasi yang diharapkan karena tidak sesuai dengan kemampuannya. Tapi sayangnya masih ada orang tua yang memiliki harapan di luar kemampuan si Kecil dengan alasan membuat si Kecil lebih bersemangat.

  • Cemas dan tidak percaya diri

Alasan selanjutnya adalah kecemasan orang tua karena takut akan memiliki anak yang sulit diandalkan dan berkemampuan rendah. Karena itu mereka menekankan pada si Kecil untuk berusaha terus dengan maksimal

Sumber : freepik.com/photos/sad-mother created by peoplecreations

Dampak Menjadi Strict Parents

Menjadi seorang strict parents ternyata tidak selalu buruk loh! Ada beberapa dampak baik juga yang bisa dimiliki oleh si Kecil dengan menerapkan pola pengasuhan strict parents.

Dampak negatif :

  • Si Kecil sulit menjadi dirinya sendiri

  • Merasa takut atau malu berlebihan saat di sekitar orang lain

  • Berpikir kepatuhan dan pencapaian adalah bentuk cinta

  • Memiliki harga diri yang lebih rendah

  • Kesulitan dalam mengendalikan diri dan emosi

  • Menjadi sering berbohong karena menghindari hukuman

  • Mudah depresi dan emosi kurang stabil

    Menjadi anak yang bermasalah

Dampak positif :

  • Mudah beradaptasi

  • Lebih mandiri dan inovatif

  • Penilai karakter yang baik

  • Pola asuh efektif

Terlepas dari berbagai dampak baik-buruknya, menjadi orang tua yang terlalu otoriter atau strict parents tidaklah baik bagi anak maupun Ayah dan Bunda sendiri. Langkah terbaiknya adalah menerapkan pola parenting yang tidak mengekang si Kecil, namun membimbing mereka. Nah, bagaimana sih cara menjadi orang tua yang tidak strict parents ?

Cara Agar Tidak Menjadi Strict Parents

Kakmin akan memberikan beberapa tips mengenai cara menjadi orang tua yang tidak strict parents

  • Pilihlah nilai-nilai yang ingin ditanamkan

Sebagai orang tua, tentu kita ingin agar si Kecil memiliki karakter yang baik. Makanya Ayah dan Bunda perlu memikirkan nilai apa yang ingin ditanamkan pada mereka.

  • Komunikasikan batas-batas aturan

Ketika memberikan peraturan pada si Kecil, Ayah dan Bunda perlu menyesuaikannya dengan perkembangan mereka. Ayah dan Bunda bisa melonggarkan peraturan jika dirasa si Kecil sudah cukup dewasa.

  • Memberikan pujian

Dengan memberi pujian pada si Kecil, mereka akan menjadi termotivasi dan menjadi lebih bersemangat. Tapi pujian yang diberikan juga tidak perlu berlebihan bagi si Kecil.

  • Jangan terlalu kaku

Dalam membesarkan anak, si Kecil sangat wajar melakukan kesalahan dan tidak mengikuti perintah. Namun Ayah dan Bunda juga menjadi orang yang lebih luwes dan tidak langsung memberi hukuman pada si Kecil. Pastikan ada ruang untuk kompromi dalam keluarga sehingga si Kecil merasa cukup bebas untuk menjadi dirinya sendiri sambil tetap menghormati kedua orang tuanya.

  • Jangan pernah membandingkan si Kecil

Menjadi orang tua yang tegas bukan berarti si Kecil perlu bertindak sesuai perintah Ayah dan Bunda. Termasuk salah satu contohnya adalah membandingkan si Kecil dengan teman atau saudaranya. Karena sederhana, tidak ada seorang pun yang senang dibanding-bandingkan. Ingatlah bahwa setiap anak itu unik dan memiliki potensinya masing-masing.

Setiap orang tua tentu memiliki gaya parenting atau pengasuhannya masing-masing. Tapi yang perlu diingat adalah kita jangan sampai mendidik anak terlalu keras karena pada akhirnya akan berdampak kembali pada diri kita. Kakmin harap semoga artikel ini bermnafaat dan  sampai jumpa di artikel selanjutnya ya Ayah dan Bunda!

Referensi :

  • https://www.parentingforbrain.com/strict-parents/#:~:text=What%20Are%20Strict%20Parents%20(Meaning,child’s%20needs%E2%80%8B1%E2%80%8B.
  • https://www.sehatq.com/artikel/ciri-ciri-strict-parents-dan-dampaknya-pada-anak
  • https://www.empoweringparents.com/article/am-i-too-strict-with-my-child/

 

Ruko U Ville A Blok UA/01 Bintaro Jaya, Sawah Baru, Kec. Ciputat, Tangerang Selatan, Indonesia

© 2022 Kalananti. All Rights Reserved